
Mengikhlaskan tidak melulu perihal melupakan. Tetapi memberi ruang pada hati untuk menerima sesuatu yang sudah pergi. Kita yakini bahwa yang telah pergi adalah yang terbaik untuk pilihan hidup. Kenapa? Karena Tuhan sangat tahu apa yang kita butuhkan.
Sesekali cobalah untuk merenung, meratapi diri ini yang terlalu mengagung-agungkan atas apa yang kita miliki sebelumnya.
Setiap perjalanan adalah kisah yang harus kita nikmati, bukan malah untuk ditangisi.
Mau sampai kapan harus membodohi diri yang belum pasti kita cintai?
Kelak, dengan keikhlasan dan kesabaran yang kita jalani akan Tuhan ganti yang jauh lebih baik lagi.
Percayalah, sebab keikhlasan dan kesabaran yang kita pupuk sedari dini akan tumbuh dan berkembang jadi benih-benih yang subur, yang akan merindangi rumah-rumah yang akan kita tempati.
Harusnya kita banyak belajar dari yang sudah pergi, bukan malah membenci. Dengan dia kita belajar bahwa tidak selamanya yang kita cintai dapat kita miliki dan tidak semua yang kita harapkan dapat kita pertahankan.
Hidup adalah soal mengikhlaskan. Bagaimana kamu bertumbuh; Dari kamu bayi hingga sampai sekarang ini, dari kamu disuapi hingga bisa makan sendiri, dari kamu belajar menerima cinta hingga kamu dapat memberi cinta. Semua itu adalah proses keikhlasan yang kamu jalani.
Coba seandainya kamu hanya bertahan di satu titik tanpa tidak mau bergerak ke titik yang lain? Aku yakin, kamu tidak bakalan sampai ke titik sekarang ini.
Maka berterima kasihlah kepada dia yang sudah pergi, kepada Tuhan yang selalu membuatmu kuat hingga detik ini.

