Mengikhlaskan Bukan Perihal Untuk Melupakan

Diterbitkan pada 28 Desember 2020 oleh Ridho Susanto

Mengikhlaskan tidak melulu perihal melupakan. Tetapi memberi ruang pada hati untuk menerima sesuatu yang sudah pergi. Kita yakini bahwa yang telah pergi adalah yang terbaik untuk pilihan hidup. Kenapa? Karena Tuhan sangat tahu apa yang kita butuhkan.

Sesekali cobalah untuk merenung, meratapi diri ini yang terlalu mengagung-agungkan atas apa yang kita miliki sebelumnya.

Setiap perjalanan adalah kisah yang harus kita nikmati, bukan malah untuk ditangisi.

Mau sampai kapan harus membodohi diri yang belum pasti kita cintai?

Kelak, dengan keikhlasan dan kesabaran yang kita jalani akan Tuhan ganti yang jauh lebih baik lagi.

Percayalah, sebab keikhlasan dan kesabaran yang kita pupuk sedari dini akan tumbuh dan berkembang jadi benih-benih yang subur, yang akan merindangi rumah-rumah yang akan kita tempati.

Harusnya kita banyak belajar dari yang sudah pergi, bukan malah membenci. Dengan dia kita belajar bahwa tidak selamanya yang kita cintai dapat kita miliki dan tidak semua yang kita harapkan dapat kita pertahankan.

Hidup adalah soal mengikhlaskan. Bagaimana kamu bertumbuh; Dari kamu bayi hingga sampai sekarang ini, dari kamu disuapi hingga bisa makan sendiri, dari kamu belajar menerima cinta hingga kamu dapat memberi cinta. Semua itu adalah proses keikhlasan yang kamu jalani.

Coba seandainya kamu hanya bertahan di satu titik tanpa tidak mau bergerak ke titik yang lain? Aku yakin, kamu tidak bakalan sampai ke titik sekarang ini.

Maka berterima kasihlah kepada dia yang sudah pergi, kepada Tuhan yang selalu membuatmu kuat hingga detik ini.

Sudahkah kita bersyukur?

Diterbitkan pada 26 Desember 2020 oleh Rido Susanto

Seringkali kita terlupa dengan apa yang sudah kita miliki dan dapatkan. Kita selalu berfikir apa yang kita dapatkan tersebut ialah hasil dari kerja keras kita. Sehingga tugas kita sebagai makhluk lupa caranya bersyukur kepada Allah SWT.

Pada hakikatnya tidak akan ada apa-apanya jika Allah tidak menghendakinya. Sama halnya dengan seorang anak kecil yang belajar naik sepeda. Ia tidak akan bisa naik sepeda jika tidak ada yang memandunya atau yang mengajarinya.

Yakinlah, segala sesuatu yang terjadi adalah ketetapan atas seizin-Nya. Dan kita sampai saat sekarang ini masih bisa bernapas, masih bisa ketawa, masih bisa bekerja, masih bisa makan, itu semua karena ketetapan-Nya.

Allah SWT telah berfirman dalam Q. S. Al-Baqarah ayat 152


فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

Artinya: “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.”

Tidak ada ruginya kalau kita bersyukur kepada Allah SWT. Sebab, dengan bersyukur Allah akan menambahkan nikmat-Nya.

Bersyukur bukan hanya perihal mengucap di lisan saja, tetapi juga meyakinkan dalam hati bahwa segala sesuatunya itu datangnya dari Allah. Dan ditambah dengan tindakan seperti saling berbagi antar sesama, menolong kepada yang membutuhkan, mendirikan sunnah-Nya, serta perbuatan amal ma’ruf lainnya.

Jangan pernah jadi manusia yang serakah, kufur nikmat, dan tidak mau bersyukur kepada Sang Pencipta. Sesungguhnya Allah sangat mencintai orang-orang yang senantiasa selalu bersyukur kepada-Nya dan membenci kepada orang-orang yang tidak mau bersyukur.

Kenapa Harus Menulis?

Ilustrasi menulis / foto : psikologi kita

Menulis adalah suatu kegiatan yang menarik. Kenapa saya katakan menarik? Dengan menulis kita lebih leluasa mengekspresikan diri kita, dengan menulis kita bisa bercerita tanpa suara, dan dengan menulis kita bisa memahami setiap kondisi yang ada.

Lewat menulis kita bisa menyampaikan pesan yang tidak bisa kita sampaikan secara langsung. Karena tidak semua orang mampu berkomunikasi dengan baik. Dengan menulis seseorang mampu menyampaikan pesan yang ingin ia sampaikan.

Banyak manfaat dari menulis. Diantaranya menambah wawasan diri, menambah literasi, membantu seseorang dalam menemukan informasi, dan masih banyak lagi manfaatnya.

Mengutip yang disampaikan oleh salah satu pernyataan sahabat Nabi sekaligus Khalifah ke empat yakni Ali bin Abi Thalib menyampaikan,

“semua orang akan mati kecuali karyanya, maka tulislah sesuatu yang akan membahagiakan dirimu di akhirat kelak”.

Begitu jelas yang disampaikan oleh Syaidinah Ali bin Abi Thalib, bahwa menulis adalah sebuah hal yang bermanfaat. Semua orang akan mati kecuali karyanya. Meskipun raganya sudah tidak ada lagi, namun karyanya masih bisa dibaca oleh generasi-generasi selanjutnya.

Maka dari itu menulis itu sangat penting. Bukan hanya buat diri sendiri tetapi juga buat orang lain. Maka menulislah.